Aksi Mahasiswa: Karangan Bunga 'Duka Cita' untuk DPR di Depan Gedung Parlemen


Karangan duka cita untuk "DPR" 
Sumber: Dokumentasi Pribadi

NarasiTerbuka - Hari itu, langit Jakarta dislimuti mendung tipis. Kamis sore yang biasanya hanya disesaki lalu lintas pejabat, berubah menjadi panggung suara rakyat. Di pelataran Gedung DPR RI, sebuah pemandangan tak biasa menjadi pusat perhatian: barisan karangan bunga berdiri tegak di depan gerbang utama.

Namun ini bukan perayaan. Di atas karangan bunga, tertulis kalimat yang mengejutkan:

"Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya  Dewan Perwakilan Rakyat."

Bunga-bunga segar itu tidak dikirim untuk seseorang yang wafat secara fisik, melainkan sebagai simbol matinya fungsi representasi. Sebuah sindiran tajam yang dibungkus dalam kelembutan estetika. Aksi damai bertajuk "Selamatkan Indonesia" ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan prosesi duka untuk demokrasi yang mereka anggap telah dikubur tanpa upacara.

Tidak ada batu dilempar. Tidak ada pagar didobrak. Yang dilempar adalah pesan-pesan moral, dan yang didobrak adalah hati nurani publik.

Mahasiswa menaburkan bunga di depan pagar, duduk bersama dalam lingkaran doa, dan menyalakan lilin saat senja mulai turun. Beberapa di antaranya membawa miniatur peti mati dari kardus, bertuliskan “Demokrasi Kita”. Tak ada provokasi. Semuanya berlangsung tertib namun menggetarkan.

Sementara di luar ribuan mahasiswa menyampaikan keresahan mereka dengan cara damai dan penuh makna, gedung megah DPR RI tampak sepi. Tak ada perwakilan rakyat yang menyambut. Pintu tertutup rapat. Seolah simbol bahwa antara rakyat dan wakilnya kini telah terbentang jurang.

Keheningan dari dalam gedung itu justru menjadi kontras paling menyakitkan dari seluruh aksi. Seolah karangan bunga yang dikirim rakyat hari itu benar adanya bahwa lembaga ini sudah tidak hidup dalam hati rakyat.

Menjelang malam, mahasiswa mulai membubarkan diri. Karangan bunga masih berdiri. Meski hari itu ditutup dengan sunyi, bukan berarti harapan telah padam. Justru dalam diam itulah, suara-suara paling tulus terdengar tentang negeri yang ingin dipeluk kembali oleh keadilan, tentang demokrasi yang ingin dihidupkan kembali, bukan dikubur dengan bunga palsu.

Banyak yang mungkin akan lupa bahwa pernah ada demo damai pada 4 September 2025. Tapi barisan karangan bunga yang berdiri diam di depan Gedung DPR hari itu akan terus menjadi pengingat: bahwa suatu hari, rakyat pernah datang tidak untuk marah, tapi untuk mengucapkan belasungkawa.

Dan di balik ucapan duka itu, tersimpan harapan bahwa suatu saat, wakil rakyat benar-benar akan hidup kembali.

Putri Az zahra Suherman

Selamat datang di ruang di mana cerita-cerita baru tercipta, bukan ditulis. Di sini, setiap narasi adalah sebuah undangan terbuka sebuah awal yang menunggu untuk kamu lanjutkan, sebuah pertanyaan yang menanti jawabanmu.

Post a Comment

Previous Post Next Post