![]() |
| Creadit by: tribunnews |
Demo besar meledak di ibu kota, Kathmandu. Awalnya karena satu kebijakan kontroversial, pemerintah memblokir sejumlah platform media sosial. Tapi seperti biasa, kemarahan rakyat jarang hanya karena satu hal. Pemblokiran itu hanya percikan api kecil yang menyulut amarah yang sudah lama terkumpul.
Melalui media sosial banyak beredar video dan foto foto dari sana bikin saya merasa dekat. Anak-anak muda berdiri di depan parlemen, menantang polisi dengan kata-kata, bukan senjata. Beberapa di antaranya berdiri dengan tangan kosong dan poster bertuliskan:
“Kami generasi yang tumbuh bersama internet. Jangan rampas suara kami.”
Buat generasi kita, internet itu bukan mainan. Ia adalah ruang hidup. Tempat kita belajar, bekerja, membangun komunitas, bahkan menyuarakan keadilan. Dan ketika pemerintah mencoba mengambil itu, reaksi wajar adalah perlawanan.
Tapi protes ini berkembang. Bukan lagi soal media sosial semata. Ini soal frustrasi yang menumpuk: soal korupsi yang tak kunjung diberantas, soal janji-janji pembangunan yang tak pernah nyata, soal kesenjangan antara rakyat dan penguasa.
Momen yang paling menyentuh adalah saat sekelompok mahasiswa duduk melingkar di jalan raya, menyanyikan lagu rakyat sambil menggenggam tangan satu sama lain. Di belakang mereka, barisan polisi berdiri dengan tameng, tapi tidak satu pun dari anak-anak muda itu mundur.
Apakah ini hanya amarah sesaat? Ini adalah sinyal bahwa generasi muda Nepal seperti banyak anak muda di dunia sedang bangkit. Mereka tidak lagi takut menuntut hak. Mereka tidak puas hanya menjadi penonton dalam negara mereka sendiri.
